Salam Untuk Papa di Surga
Dia luar biasa..
Setiap mengingatnya yg muncul pertama kali dalam benakku adalah rasa syukur,
Bersyukur karna Tuhan sudah tempatkan aku dalam keluarga îήî
Menempatkanku sebagai seorang anak dari sosok ayah paling hebat di seluruh dunia. Ayahku Edison Rudolf Juangga Marpaung.
Dia lucu, selalu ada hal untuk mencairkan suasana dan memecahkan tawa dalam ruangan.
Dia punya nuansa hangat yg khas lewat tawa, sapaan, dan suaranya
Dia punya kasih yang luar biasa terpancar lewat pelukan dan nasihatnya.
Orang-orang sering bilang “jika mau ťåü gambaran Tuhan di dunia, maka lihatlah sosok seorang ayah”
Aku setuju.. Ayahku dia begitu “sempurna” dimataku.
Dia suka bercerita, apa saja yg pernah dia alami.
Masa kecilnya, sukanya, dukanya, semuanya yg pernah terjadi dalam hidupnya.
Dia suka mengulang semua cerita ketika semua keluarga besar berkumpul. Aku hanya menatapnya dengan terpukau. Mengandaikan diriku dan dia ada dalam setiap ceritanya bersama-sama.
Dia juga suka bernyanyi (lagu batak khususnya), setiap pagii di dalam mobil pick up hitam yang biasanya mengantarkan kami kerja dia selalu bernyanyi utkku, di ruang tamu rumah bersama2 dengan kakak2 dan abangku dengan dibumbui tawa2 kecil dan cerita2 mengagumkan..
Setiap lagu punya cerita, kami gak begitu ngerti bhs.batak, jadi biasanya sambil bernyanyi dia akan mengartikannya utk kami.
Dia juga suka marah2, marah tentang hal-hal yang kadang membuat aku bingung, dan salah tingkah. Karna mau aku ngapain ǎjǎ gak akan mengurangi kekesalannya.
Aku menggerutu ketika dia marah, aku bisa ngambek sampai berhari2 kalau papa marah.
Tapi dia punya cara yang khas utk membuatku luluh, dia akan memanggilku “boru hasian bapak


” sambil mengusap kepalaku dan memelukku.. Kemudian dia akan berkata “jadi kita udah temanan dek”.. Aku hanya bisa tersenyum sambil mengusap2 perut besarnya, skrg aku kangen mendengar marahnya papa..
Aku, abangku, dan kakakku suka bercerita sama papa, semua masalah kami.
Dia hanya akan berkata “slow tenang, jalani ǎjǎ dulu, semua pasti bisa dihadapi, berserah ǎjǎ sama Tuhan” setelah dia berkata itu dia pasti memberikan senyumannya.. Seperti mengisyaratkan bahwa sesuatu yang buruk pasti akan kami lewati dengan baik.. Memberi keyakinan pada kami, bahwa kami sanggup.
06 desember 2012, duniaku seperti dihancurkan seketika.. Tanpa menyisakan pondasi2 kuat utk membangunnya kembali.
Ketika dokter berkata di ruang ICU bahwa pembuluh darah di batang otak utama papaku sudah pecah, dan semua organ vital tubuh papaku sudah tidak berfungsi.
Aku hanya bisa mendengar tangisan, hanya melihat kegetiran dan kesedihan. Aku mencarinya “papaku” terbaring dalam kasur rawat rumah sakit, “tidak berdaya”. Aku kenal dia sebagai sosok tangguh, tapi kini aku hrs mlihatnya tdk berdaya.
Aku bertanya “kenapa secepat îήî Tuhan?”
Aku baru saja menghabiskan tawa di pagii Ђά̲̣яΐ seperti biasa dengannya, kemudian ϑªlά̲m hitungan menit lgsg diperhadapkan dalam situsai yang seperti mimpi.
Aku mulai merasa mukaku begitu panas, berat, dan basah krn air mata. Aku melihat kakak2ku dan abangku menangis dan begitu hampa. Kemudian bergumam dalam hati “Tuhan ternyata îήî bukan mimpi”.
7 Ђά̲̣яΐ dalam ruang ICU, berat rasanya memasuki ruang ICU krn kami hrs menahan tangis utk tidak memberatkan beban papa, krn yg kami mau hanya memeberi dukungan dan kekuatan utk papa, walaupun setiap masuk ruang ICU kami hrs mendengarkan penjelasan dokter tentang kondisi papa yg membuat kami merasa runtuh.
7 hari papa berjuang dengan penyakitnya, menunjukan mujizat2 Tuhan lewat respon yg dia berikan, progress yang dia tunjukan.
Walau secara medis dokter tdk bisa menjelaskan kemajuan yang dia tunjukan.
Kami berdoa pada Tuhan “untuk memberikan kami kesempatan bisa berkomunikasi dg papa walau hanya sebentar” dan Tuhan berikan lewat respon2 papa ketika kami berbicara.
Kami berdoa pada Tuhan utk dicukupkan dalam pembiayaan rmh sakit papa, dan dia curahkan berkatnya trs menerus lewat orang2 yang mengasishi papa.
Kami berdoa utk diberikan kekuatan dan hati yg berserah dalam menanti kesembuhan papa, dan Tuhan juga berikan.
Tapi pengharapan itu msh menjadi sebuah tanya, dengan cara apa Tuhan sembuhkan papa.
Akhirnya Tuhan jawab doa kami. Dia sembuhkan papa, dia sembuhkan papa tanpa sakit yg tertinggal dalam dirinya lagi, dia selamatkan papa dari rasa sakit yg menyiksanya.
12-12-12, Tuhan sembuhkan papa secara abadi, papa tidak hanya sembuh secara fisik tapi juga rohnya.. Tuhan sayang papa itu yang kami yakini. Tuhan tidak menyiksanya terlalu lama dalam rasa sakit, Tuhan beri papa kekuatan utk bertahan selama 7 Ђά̲̣яΐ sampai Ђά̲̣яΐ ulang tahun kakakku christine tepat di tanggal 12-12-12, Tuhan penuhi janjinya.
Kami kehilangan papa itu benar, kami sangat sediih itu juga benar, tapi kami ťåü bahwa papa sudah tenang, papa sudah sembuh, papa sudah bersama Tuhan, akhirnya papa sampai di sorga.
Kami kangen pelukan papa teramat sangat, setiap sudut rumah punya kisah tentang papa, kami rindu papa.
Masih terngiang sapaan hangat papa tiap pagii, candaan papa yang bikin kami semangat tiap pagii. Dan pelukan erat papa dari badannya yang hangat dan bernuansa teduh.
Salam untuk papa di sorga:
“Tuhan, papa sudah sama Tuhan ya di sorga? Sampaikan salamku utk papa ya Tuhan, tolong sampaikan kalo kami semua sangat sayang papa, kami kangen papa, tapi bilang juga sama papa kalo papa gak perlu kuatirkan kami, karna papa sudah berhasil didik kami utk jd tangguh dan kompak. Tuhan tolong bilang sama papa utk selalu hadir dalam setiap doa kami bersama2 denganMu Tuhan. Aku juga mau ucapin terimakasih Tuhan karna Tuhan sudah bimbing dan kuatkan aku bersma kakak2 dan abang2ku juga mama dalam menghadapi pergumulan kami, terimakasih sudah menjadi BAPA yg sejati utk kami di setiap tangisan kami. Salam dan peluk hangat anak2mu terkasih :* (Mama, Eko, Vlora, Franky, Christine, Maria, Tia)”





3192
